Antara Air, Kesetrum Listrik dan Wudhu

6 04 2010

Assalaamu’alaikum, wr, wb.

Teman saya bertanya kepada saya, “Kamu sering kesetrum listrik statis waktu
memegang handle pintu kantor kita?”
Saya jawab, “Iya, betul sekali. Tetapi hanya waktu winter saja.”
Setiap musim winter tiba, saya memang sering merasa kesetrum ketika memegang
handle pintu yang terbuat dari bahan logam seperti almunium.

Ia bertanya, “Tahukah kamu mengapa hal ini tidak terjadi di musim yang
lain?”
Saya jawab, “Tidak tahu.”
Kata teman saya, “Karena udara sangat kering di musim winter.”
Saya tanya, “Kok bisa begitu?”

Jawab dia, “Karena molekul air yang mengembun di tubuh kita akan menetralkan
listrik statis yang terakumulasi di tubuh kita. Di musim winter, udara
sangat kering, sehingga tidak ada molekul air di permukaan kulit kita.
Elektron yang terkumpul di tubuh kita, yang kebanyakan berasal dari gesekan
jaket yang kita kenakan, akan terus terakumulasi. Dan begitu tangan kita
menyentuh logam yang merupakan konduktor yang baik, elektron yang
terakumulasi tadi langsung “meloncat” dari tubuh kita ke logam tsb. Itu
adalah fenomena “petir mini”, dan ujung jarimu yang merasa seperti tersambar
petir. Hal ini mirip dengan fenomena penangkal petir. Di atas ada gumpalan
uap air yang kaya akan elektron. Elektron elektron itu akan “meloncat” ke
bumi melalui titik titik terdekat dengan awan dan bahan konduktor yang
bagus.”

Saya terkesima, dan berujar, “Oooo, begitu ya, ceritanya.”

Ia pun dengan semangat meneruskan kuliahnya, “Jadi, kalau kamu tidak
ingin tersambar pertir mini alias kesetrum listrik statis, sebelum
kau memegang handle pintu, basahilah dulu tanganmu dengan air. Atau, kalau
tidak ada air, salurkanlah elektron di tubuhmu ke bumi dengan menebakkan
tanganmu ke tanah atau tembok.”

Saya terperangah dengan kalimat terakhir itu. Saya terperanjat. Saya
terkagum kagum. Saya bertakbir: Allahu Akbar!
Berpuluh puluh tahun saya bertanya tanya tentang tayamum sebagai pengganti
wudhu, berpuluh puluh tahun naluri keingintahuan saya pendam. Hari ini,
temanku yang notabene seorang atheis yang menjelaskannya dengan gamblang
dengan teori listrik statis; sebuah ilmu sederhana yang sudah aku pelajari
sejak bangku SD dan selalu kudapatkan pelajaran itu di jenjang sekolah
berikutnya.

Dulu, saya mengira bahwa (satu satunya) hikmah berwudhu adalah membersihkan
badan dari kotoran yang menempel di tubuh kita. Tetapi saya tidak habis
fikir, bagaimana bisa wudhu diganti dengan tayammum yang dilakukan dengan
membasuhkan debu ke wajah dan telapak tangan? Ternyata “kotoran” yang ada di
dalam tubuh kita ternyata bukan hanya debu yang menempel ke tubuh kita. Ada
jenis “kotoran” yang tidak terlihat oleh mata, jauh lebih berbahaya bila
tidak segera di”buang”. “Kotoran” itu bernama elektron, yang apabila terlalu
banyak terakumulasi di tubuh kita bisa merusak kesetimbangan
sistem elektrolit cairan di dalam tubuh kita.

Molekul molekul air H2O yang bersifat polar sangat mudah menyerap elektron
elektron yang terakumulasi di tubuh kita. Hanya dengan mengusapkan air ke
permukaan kulit saja, maka “kotoran” elektron itu dengan mudah “terbuang”
dari tubuh kita. Sekarang saya faham, mengapa Rasulullah SAW pernah “mandi
besar” hanya dengan menggunakan air satu ciduk saja, kurang lebih satu liter
saja. Rupa rupanya yang dibutuhkan hanyalah membasahi seluruh permukaan
tubuh dengan air, tanpa harus mengguyurnya; dan itu pulalah sebenarnya
definisi syar’i wudhu dan mandi besar, hanya perlu membasuh saja, dan bukan
mengguyur. Ternyata, hanya dengan membasuh kulit tubuh dengan air itulah
kelebihan elektron di permukaan tubuh kita akan dinetralkan.

Dengan teori “kotoran” elektron listrik statis inilah akhirnya rahasia di
balik tayamum sebagai pengganti wudhu menjadi terang benderang di mata saya;
bahwa air yang dibasuhkan ke kulit tubuh akan menetralkan listrik statis di
tubuh kita, dan penetralan itu bisa diganti dengan menebakkan tangan ke
tanah dan mengusapkan debu wajah dan telapak tangan.  Pernah ada kisah
seorang sahabat bergulung gulung di tanah karena ia harus mandi besar dan
tidak ada air. Ia mengira, bahwa ia harus melumuri tubuhnya dengan debu,
sebab ia beranalogi dengan wudhu dan tayamum. Kalau wudhu yang
mengusap hanya wajah, kepala, tangan dan kaki difanti dengan tayamum yang
mengusap wajah dan telapak tangan, maka mandi janabat yang harus membasuh
seluruh tubuh diganti dengan tayamum seluruh tubuh. Rasulullah pun
menjelaskan bahwa tayamum untuk mandi janabah dilakukan sama persis dengan
tayamum sebagai pengganti wudhu, yaitu cukup wajah dan telapak tangan saja.

Subhaanallaah. … Satu lagi Allah tunjukkan kepada saya bukti kebenaran
Alqur’an sebagai wahyu Allah dan bukan karangan manusia:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا
وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ
وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا
فَاطَّهَّرُوا ۚوَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ
أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ
الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً
فَتَيَمَّمُواصَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم
مِّنْهُ
ۚ مَا يُرِيدُ اللَّـهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَـٰكِن يُرِيدُ
لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
﴿6﴾
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka
basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan
(basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka
mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat
buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air,
maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan
tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia
hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu
bersyukur. (6) QS AlMaidah.

O ye who believe! when ye prepare for prayer, wash your faces, and your
hands (and arms) to the elbows; Rub your heads (with water); and (wash) your
feet to the ankles. If ye are in a state of ceremonial impurity, bathe your
whole body. But if ye are ill, or on a journey, or one of you cometh from
offices of nature, or ye have been in contact with women, and ye find no
water, then take for yourselves clean sand or earth, and rub therewith your
faces and hands, Allah doth not wish to place you in a difficulty, but to
make you clean, and to complete his favour to you, that ye may be grateful.
(6)

Merasa mendapatkan “ilmu baru”, saya pun mengklarifikasi hal ini ke mbah
Google. Rupa rupanya saya ketinggalan jaman. Ternyata literatur mengenai
wudhu, tayamum dan listrik statis ini sudah berjibun jumlahnya.  Inilah
salah satunya:

http://fountainmaga zine.net/ article.php? ARTICLEID= 435

Untungnya saya melakukan literatur search kecil kecilan sebelum membagi
pengalaman saya di atas. Jika tidak, bisa bisa saya mendapat gelar baru:
Plagiator!

Alaa kulli haal, above all, mudah mudahan sharing pengalaman saya ini bisa
menambah keyakinan bagi rekan rekan semua akan kebenaran Alqur’an.  Sukur
sukur ada yang bersedia menjelaskan lebih detail. Amin.

Wassalam,

Rois Fatoni

Dosen Teknik Kimia Univ. Muhammadiyah Surakarta
Graduate Student
Department of Chemical Engineering<http://chentserver. uwaterloo. ca/index. html>
University of Waterloo <http://www.uwaterloo.ca/>
200 University Avenue West
Waterloo, ON, Canada N2L 3G1
519 888 4567 ext 35675

[dicopy dari milist sahabat-arrayyan]


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: