Kenakalan Dua Masa

28 08 2009

*dicopy sesuai judul aslinya dari milist taman melati. Ditulis oleh Bayu Gautama

Sesaat sebelum shalat Isya dimulai, melalui pengeras suara panitia sudah mengingatkan anak-anak agar tidak terlalu gaduh. Namun dasarnya anak-anak, ada beberapa yang diam dan mengikuti shalat, tapi lebih banyak yang beradu suara dengan imam shalat. Yang satu melantunkan ayat-ayat dalam sholat, yang lainnya berteriak-teriak dan membuat kegaduhan. Tentu saja tidak sedikit jamaah yang merasa terganggu oleh ulah anak-anak ini.

Usai shalat Isya berjamaah, dilanjutkan dengan ceramah dari seorang ustadz beberapa menit sebelum shalat tarawih. Nah, sepanjang sang ustadz berceramah sepanjang itulah kegaduhan demi kegaduhan tercipta lebih serius. Ada anak-anak yang berlari-larian di selasar masjid, ada yang becanda berlebihan sampai berkelahi, ada yang menangis, riuhnya minta ampun. Ketika ada pengurus masjid yang mendatangi anak-anak itu mencoba menenangkan, kegaduhan tidak berkurang melainkan berpindah ke bagian belakang masjid. Agak lebih tenang memang, namun tetap saja mengganggu.

Ada yang menarik jika memerhatikan tingkah anak-anak di masjid ketika mengikuti sholat tarawih. Mereka sangat gaduh setiap kali sholat hendak dimulai, namun mendekati saat “salam” ketika ‘tahiyat’ akhir, mereka serempak duduk layaknya orang-orang yang akan segera mengakhiri sholatnya. “Assalaamu’alaikum warrahmatullaaahi wabarokaatuhu…” begitu imam mengakhiri sholat, beberapa dari anak itu cekikikan, namun tetap terlihat rapi dan tenang dalam barisan jamaah.

Beberapa detik kemudian, meledak lagi kegaduhan mereka. “Ssst…” suara yang seperti ini dari para jamaah cuma mampir telinga kiri lewat begitu saja keluar dari telinga kanan. Bahkan beberapa anak cuma melirik sesaat ke sumber suara dan menyeringai nakal terus melanjutkan aksi gaduhnya.

Dua rakaat berikutnya dimulai, mereka masih saja gaduh dan sesekali menimbulkan suara-suara aneh yang kerap mengganggu. Kalau kebetulan ada jamaah tarawih yang baru bergabung dan sempat menegur anak-anak ini, sejenak mereka bersidekap diam. Sesaat setelah jamaah yang barusan menegur masuk dalam barisan sholat, genderang gaduhnya ditabuh lagi. Jadilah sepanjang dua rakaat kedua itu semakin berisik tidak karuan. Uniknya anak-anak ini lumayan cerdas, begitu menjelang usai rakaat kedua, “brukk…” kompak mereka duduk di deretan para jamaah yang sebentar lagi mengucapkan “salam”.

Rupanya, anak-anak yang berisik tanpa peduli suasana ini juga tak ingin ditunjuk sebagai biang keributan di masjid. Mereka ingin terlihat seolah tengah khusyuk sholat meskipun hal itu dilakukannya hanya di akhir-akhir shalat menjelang “salam”. Jadi begitu jamaah selesai sholat, mereka berharap tidak satupun jamaah yang tahu siapa sebenarnya diantara mereka yang membuat kegaduhan. Coba deh, ketika ditanya pasti jawaban mereka sama, “dia nih…” sambil menunjuk temannya. Bisa jadi yang menuduh itulah yang paling ribut.

Begitu seterusnya, setiap kali sholat dimulai mereka tak henti membuat keributan demi keributan. Begitu menjelang “salam” mereka berpura-pura khusyuk sholat. Sebuah kenakalan ala anak-anak yang mengingatkan saya pada masa-masa seusia mereka. Sebagai salah seorang anak nakal pada masa lalu, kenakalan di waktu sholat, baik sholat tarawih maupun sholat jum’at seperti mereka adalah juga salah satu kenakalan saya. Boleh juga saya bilang bahwa anak-anak itu menjiplak kenakalan yang saya buat puluhan tahun lalu. Ups, tidak bisa! Mereka akan protes dan mengatakan bahwa saya pun menjiplak dari orang-orang yang lebih dulu melakukan kenakalan seperti itu di masa sebelum saya. Okelah, deal! Kita saling menjiplak.

Kenakalan ala anak-anak ini, membuat saya merenung tentang bentuk kenakalan lain yang bukan dilakukan oleh anak-anak, namun memiliki persamaan gaya. Bedanya yang satu dilakukan di masjid ketika sholat, yang satu lagi dilakukan di banyak lokasi. Bisa di kantor, di jalanan, rumah atau dimana saja bentuk kenakalan ini bisa berlaku. Orang-orang dewasa seperti kita lah yang melakukan kenakalan-kenakalan ini, namun pada saat-saat tertentu kita berpura-pura seperti orang baik yang seolah jauh dari sentuhan kenakalan ini.

Para karyawan di kantor yang banyak membuang waktu bekerjanya dengan kegiatan sia-sia dan tidak produktif, misalnya dengan bermain game di komputer mereka, facebook berjam-jam. Kita terlihat sibuk di pagi hari, namun tidak produktif di siang hari. Menjelang sore terlihat sibuk lagi seolah pekerjaan tidak ada habisnya. Padahal pekerjaan justru akan selesai jika kita maksimal memanfaatkan waktu di siang harinya. Kita akan semakin terlihat sibuk jika atasan mampir ke meja kerja, walaupun maksud mampirnya tidak melulu soal pekerjaan.

Para suami, yang isterinya tak pernah tahu apa saja yang dilakukannya selama di luar rumah. Menjelang tiba di rumah, ia menghapus semua jejak kenakalannya dan berubah menjadi suami paling setia di rumah. Begitu juga isteri-isteri yang rajin bertandang ke tetangga mencari dan menebar infotainment teranyar seputar masalah tetangganya. Ia akan terlihat manis dan santun begitu sang suami pulang, seolah menjadi orang yang paling kurang pergaulan di sekitar rumahnya. Bagi isteri-isteri yang bekerja, disaat jauh dari suami seolah tak bedanya dengan teman-temannya yang masih sendiri. Namun begitu di rumah, ia menjelma menjadi seorang isteri yang mengaku selalu merindukan suaminya selama ia di kantor.

Ketika ada seorang rekan yang menegur saat kita banyak melalaikan waktu bekerja, kita bergegas dan pura-pura aktif bekerja. Namun begitu sang teman tak lagi menegur, kembalilah kita pada kebiasaan membuang-buang waktu. Kala ada seorang yang tahu kita melakukan kecurangan, tiba-tiba kita tersadar dan mengembalikan semua kecurangan itu. Namun bila kesempatan itu datang lagi, tak pernah kita lewatkan sedetikpun. Ketika akhirnya sang isteri tahu perilaku negatif suaminya di luar rumah, taubatnya di depan isteri seperti esok hari ia akan meninggal dunia. Namun keesokan harinya, kenakalannya berlanjut.

Oh, kenakalan dua masa yang berbeda. Bukan hanya beda masanya, namun juga beda pelakunya dan yang pasti beda pula akibatnya. Jika kenakalan masa kecil masih bisa dimaafkan, “namanya juga anak kecil”, namun kenakalan-kenakalan orang dewasa akan sulit termaafkan. Dalam beberapa kasus, kehancuran adalah akhir dari kenakalan ini. Ya, setelah dipecat dari perusahaan barulah kita sadar. Setelah isteri minta cerai baru menyesal, setelah suami memergoki perilaku buruk isteri di rumah, baru minta ampun. Setelah rumah tangga berantakan, barulah kita berucap “bodohnya saya”.

Aah, dari gaduhnya anak-anak saat shalat tarawih kok jadi panjang begini? (Gaw)


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: