Pengendalian Diri (tidak hanya) di Bulan Romadhon

19 08 2009
*dicopy sesuai aslinya dari milist taman-melati@yahoogroups.com, tulisan  Bp Andre/EA-2/RT-06
Berikut sharing dari pengajian DT, semoga dapat menjadi pelajaran kita bersama…
Assalamu’alaikum warahmatullahi  wabarakatuh
Subhanallah, walhamdulillah, walaailaahaillallah, wallahuakbar.

Semoga Allah SWT mengkaruniakan kepada kita semua keterampilan mengendalikan diri. Tidak ada yang bahaya dalam hidup ini, selain sikap kita sendiri.karena ternyata bahaya besar dalam hidup ini ialah ketika kita tidak berhasil mengendalikan diri kita dengan baik.Salah satu ciri orang bahagia dan bertaqwa ialah yang paling terampil mengendalikan dirinya dengan tepat. Sehingga dapat melalui rintangan yang ada. Kita bisa melatih diri selama ramadhan.

Yang pertama ialah pikiran, pikiran akan mempengaruhi suasana hati. Kalau kita berpikir seseorang akan mengancam diri kita, maka pikiran kita akan langsung merasa tidak nyaman. Kita sering tidak nyaman dalam hidup karena pikiran kita terfokus pada hal-hal yang negatif dan mengakibatkan kita menjadi menderita. Seharusnya bagaimana sikap kita menyikapi hal ini?

Seharusnya bulan Ramadhan bulan latihan untuk berpikir positif. Kalau pikiran kita hanya tertuju kepada makhluk, maka akan gelisah. Namun bila pikiran kita tertuju kepada pencipta makhluk yakni Allah SWT maka insyaallah tidak akan gelisah. Semakin lambat mengalihkan pikiran kita kepada Allah, semakin gelisah. Semakin cepat mengalihkan pikiran kita kepada Allah, maka akan semakin tenteram. “Alaa bidzikrillahi tatma’innulquluub”.

Melihat kekurangan orang lain, akan jengkel. Melihat kelebihan orang lain, akan tenang. Mari kita mencari seribu satu alasan untuk memaafkan orang lain. Kendalikan pikiran, mencari hikmah, berdzikir, mencari Allah SWT insyaallah tenteram.

Kita sering melihat lukisan kuda, dan kita terpesona kepada yang melukisnya. Kenapa melihat kuda yang nyata, kita tidak memuji Sang Maha Pencipta-Nya? Kita melihat adik kita memainkan boneka, dan kita memuji pabrik bonekanya. Kenapa melihat bayi memainkan boneka, kita tidak memuji yang Maha Pencipta?

Setiap kejadian terjadi atas ijin dan kehendak Allah SWT. Setiap kejadian yang terjadi pasti ada hikmahnya. Kita jangan terfokus kepada makhluk, fokuslah kepada yang Maha Menciptakan makhluk.

Selamat menikmati mengolah pikiran, kalau kita tidak terampil mengolah pikiran, ciri yang paling khas adalah gelisah. Apakah kita tidak boleh gelisah? Jawabnya “harus”, tetapi gelisahnya bukan karena urusan dunia, melainkan urusan akherat. Sebagai contoh : takut kalau shalat kita tidak diterima, amal yang tidak ikhlas, takut di yaumal hisab tidak husnul khotimah.

Yang kedua, latihan mengendalikan keinginan. Kesengsaraan itu karena diperbudak oleh keinginan. Yang bagus ialah menginginkan sesuatu yang disukai oleh Allah SWT. Untuk keinginan dunia, memperbanyak do’a dan memohon petunjuk yang terbaik dalam pandangan Allah SWT. Apapun yang kita inginkan, syaratnya ialah :

1. Allah SWT suka atau tidak dengan keinginan kita.
2. Istiqharah, memohon petunjuk dan bimbingan dari Allah SWT. Sebagaimana terdapat dalam firman Allah SWT : “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah maha mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (QS.2 : 216).

Keinginan timbul dari pandangan, cobalah untuk menahan pandangan dari yang tidak membawa manfaat. Kalau kita ingin membeli sesuatu, pertanyaannya adalah, bukan ingin atau tidak ingin? Tetapi, kita perlu atau tidak perlu? Karena keinginan tidak akan pernah ada habisnya. Rasulullah SAW menggambar sebuah kotak dan didalamnya digambarkan ditengah kotak tersebut sebuah garis lurus yang melewati kotak tersebut, apa artinya? Kotak tersebut diartikan sebagai umur, sedangkan garis lurus didalam kotak tersebut digambarkan sebagai keinginan.

Yang ketiga, mengendalikan amarah. Kenapa kita marah? Prinsip dasarnya ialah ketidaksiapan mental menerima yang tidak sesuai dengan keinginan dan harapan kita. Kalau kita marah, kepentingannya nafsu dan cenderung menyakiti orang lain. Sedangkan kalau kita tegas, kepentingannya adil. Maka berlaku adillah, karena adil dekat dengan taqwa.

Sebagai analogi, kalau kita marah bagaikan menancapkan paku ke dinding. Semakin sering kita marah, semakin banyak paku yang akan menancap di dinding. Lisan kita seperti paku yang ditancapkan ke dinding atau hati orang yang kita sakiti. Seandainya kita meminta maaf  kepada orang yang telah kita sakiti, maka paku tersebut akan lepas dari dinding, namun kita akan meninggalkan bekas lubang paku di dinding.

Yang keempat, mengendalikan lisan. Sebagaimana sabda Rasullulah SAW “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang benar atau diam” (HR.Bukhari Muslim). Mari kita jaga lisan kita dari perkataan-perkataan yang sia-sia, yang tidak membawa manfaat.

Setiap perkataan yang kita ucapkan bagaikan anak panah yang kita lepaskan melesat dari busurnya. Apabila sudah terlepas, maka tidak dapat kita tarik kembali. Oleh karena itu, alangkah lebih baik setiap perkataan yang akan kita ucapkan hendaknya dipikirkan terlebih dahulu.

Semoga kita bisa belajar untuk tidak mudah menyinggung perasaan orang lain dan tidak mudah tersinggung oleh perkataan orang lain. Karena tidak setiap yang ingin kita katakan, harus kita katakan.

wassalam,


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: