Menggapai Qunut Dalam Shalat

4 08 2009

“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dalam keadaan qunut”. (Al-Baqarah: 238) Salah satu bentuk pemeliharaan seseorang terhadap shalatnya adalah menunaikannya dengan penuh qunut kepada Allah swt. Qunut dalam arti khusyu’ dan konsentrasi penuh kepada Allah swt. Sedangkan realisasi qunut dalam shalat adalah tercapainya buah dari shalat, yaitu “Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar”. (Al-Ankabut: 45), serta mencapai kebahagiaan dan keberuntungan seperti yang dijanjikan Allah dalam firman-Nya, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya”. (Al-Mu’minun: 1-2). Dan memang shalat yang paling utama seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw adalah dengan “thulul qiyam” (berdiri yang lama). Bahkan pernah dalam salah satu shalat Rasulullah, dalam satu rakaat beliau membaca surah Al-Baqarah, An-Nisa’ dan Ali Imran. Dan para mufassirin banyak yang memahami ayat “Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dalam keadaan qunut” dalam arti thulul qiyam. Berdasarkan pembacaan dan penelusuran terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang konsep “qunut” ini, maka dari 13 ayat yang ditemukan, hanya ayat di atas yang dikaitkan dengan perintah shalat. Sedangkan ayat-ayat yang lain berbicara dalam konteks ubudiyah yang umum. Dikaitkannya qunut dengan shalat dalam ayat di atas menurut sebagian mufassirin mengisyaratkan bahwa shalat adalah sarana yang paling utama bagi seseorang untuk menunjukkan ketaatan kepada Allah. Sehingga dalam shalat, seseorang harus mampu melepaskan diri dari kesibukan lain, karena shalat sendiri adalah sebuah kesibukan, seperti yang dapat dipahami dari hadits Abdullah bin Mas’ud, “Sesungguhnya dalam shalat itu ada kesibukan”. (H.R. Muttafaqun Alaih). Karena esensi qunut dalam shalat adalah khusyu’ kepada Allah dan konsentrasi mengingat-Nya. Demikianlah berdasarkan sebab nuzulnya, ayat ini turun untuk mengingatkan keadaan shalat mereka sebelum ini yang biasa berbicara di tengah melaksanakan shalat, bahkan membicarakan berbagai keperluan yang mereka hadapi. Maka dengan turunnya ayat ini , mereka mengetahui bahwa di dalam shalat tidak boleh ada kesibukan lain selain mengingat Allah, khusyu’ kepada-Nya dan konsentrasi penuh untuk mengingat-Nya. Secara makna, “qunut” bisa dipahami dalam berbagai pengertian. Menurut bahasa, qunut berarti taat dalam segala sesuatu. Dalam Mu’jam Maqayisul Lughah, Ibnu Zakaria memahami asal arti qunut menurut bahasa adalah taat, namun kemudian kata ini digunakan untuk menunjuk pada setiap istiqamah di jalan agama yang diridhai Allah swt. Lebih jelas Imam At-Thabari menegaskan bahwa setiap kata qunut dalam Al-Qur’an tidak lain artinya adalah taat. Namun Ibnu Qutaibah dalam Ta’wil Musykil Al-Qur’an memperluas makna qunut kepada arti berdiri yang lama, doa, shalat, menahan diri dari berbicara, pengakuan akan ubudiyah Allah dan ketaatan kepada-Nya. Sehingga dalam konteks bahasa, qunut bisa tampil dalam berbagai amal; orang yang istiqamah dalam shalatnya adalah orang yang qanit. Orang yang senantiasa berdoa tanpa jemu adalah orang yang qanit dalam berdoa. Dan orang yang memperpanjang berdiri saat shalat adalah cermin dari orang yang qanit dalam shalatnya. Dalam konteks fikih, qunut berarti setiap bacaan dalam shalat yang mengandungi pujian kepada Allah dan doa munajat kepada-Nya, seperti qunut dalam shalat witir menurut Hanafiyah dan qunut nazilah. Manakala qunut dalam konteks akhlaq adalah sikap tawadhu’ dan rendah hati. Dan begitu seterusnya. Qunut bisa direalisasikan dalam keseluruhan aktivitas ibadah kita dan memang itulah yang diinginkan oleh Allah swt dari setiap pengabdian kita yang tulus kepada-Nya. Dalam konteks pembahasan tentang qunut, dua orang yang diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an adalah Ibrahim yang mewakili laki-laki dan Maryam yang mewakili wanita. Keduanya tampil dengan sikap qunut (taat) yang totalitas kepada Allah dalam semua amal ibadahnya. Nabi Ibrahim dipuji oleh Allah dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang umat yang dapat dijadikan teladan dalam kepatuhannya kepada Allah dan seorang yang hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah”. (An-Nahl: 120). Bahkan ketaatan Nabi Ibrahim as dalam ayat ini digambarkan menyamai ketaatan satu umat (ummatan qanitan). Betapa hanya Ibrahim yang mampu membuktikan ketaatannya yang paripurna kepada Allah, meskipun ia harus menyembelih putranya yang sangat dicintainya. Ibrahim juga siap meninggalkan keluarganya di tengah padang pasir yang tandus dan gersang karena sikap qunutnya kepada Allah yang totalitas. Begitu juga dengan Maryam. Wanita shalihah ini diabadikan namanya oleh Allah sebagai contoh terbaik dalam hal ketaatan kepada Allah. Bahkan ketaatannya mampu menyamai ketaatan laki-laki yang taat (minal qanitin). “Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang qanit.” (At-Tahrim: 12). Keutamaan tersebut Allah berikan karena ia mampu memenuhi perintah Allah, “Hai Maryam, qunut (taat)lah kepada Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang ruku’” (Ali Imran: 43) Ketika Al-Qur’an berbicara tentang ciri-ciri istri yang shalihah yang mendapat pujian dan penghargaan Allah, sifat pertama yang disebutkan adalah sifat qunutnya (qanitah) “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shalih, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)”. (An-Nisa’: 34) Hal yang menarik dari pembicaraan tentang sifat qunut, bahwa Al-Qur’an justru banyak menyebut keutamaan sifat ini dalam konteks keutamaan wanita. Seakan-akan ini sebuah isyarat bahwa kaum wanita dituntut lebih untuk bersikap demikian. Atau memang secara fitrah, kaum wanita lebih mudah untuk menunjukkan sifat ini jika mereka mampu melepaskan diri dari keinginan dan gemerlap duniawi yang menjadi perhiasan mereka. Maka ketika beberapa istri Rasulullah saw memiliki keinginan duniawi seperti lazimnya para wanita yang lain dan mereka mengadukan permintaannya itu kepada Rasulullah, Allah segera mengingatkan mereka dan memberi jaminan bahwa kelak jika Rasulullah menceraikan mereka, beliau akan mendapatkan ganti wanita-wanita yang qanitah juga.”Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan”. (At-Tahrim: 5). Dan jika sebaliknya, mereka mampu menunjukkan sifat qunut yang sempurna, maka Allah akan memberi mereka pahala dua kali lipat. “Dan barang siapa di antara kamu sekalian (istri-istri nabi) tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang saleh, niscaya Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezki yang mulia”. (Al-Ahzab: 31) Betapa tinggi kedudukan sifat qunut, sampai Allah swt menyatakan bahwa seluruh makhluk-Nya yang berada di langit dan di bumi juga serentak menunjukkan qunutnya kepada Allah, Sang Khaliq mereka. Allah menegaskan sikap mereka dalam firman-Nya, “Mereka (orang-orang kafir) berkata, “Allah mempunyai anak”. Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya. (Al-Baqarah: 116), dan firman-Nya yang lain, “Dan kepunyaan-Nyalah siapa saja yang ada di langit dan di bumi. Semuanya hanya kepada-Nya tunduk”. (Ar-Rum: 26) Imam Ath-Thabari memahami sikap qunut dari seluruh ciptaan Allah selain manusia adalah ketundukan dan kepatuhan mereka terhadap seluruh perintah Allah, serta pengakuan (ikrar) mereka atas keesaan Allah swt. Dari sini, sudah semestinya manusia berfikir bahwa ketika semua makhluk Allah yang tidak berakal senantiasa dalam keadaan qunut dan tunduk kepada-Nya, maka manusia yang dianugerahi kelebihan akal oleh Allah, semestinya mampu menunjukkan sikap demikian, bahkan melebihi qunut makhluk yang lain. Dan itulah pujian Allah kepada hamba-hamba-Nya yang senantiasa dalam keadaan siap dan tunduk kepada seluruh aturan Allah dalam semua bidang kehidupan, “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Az-Zumar: 9)

*dicopy sesuai judul aslinya dari tulisan Dr. Attabiq Luthfi. MA di situs dakwatuna.com


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: