Sejarah masjid-masjid bersejarah

3 08 2009

Masjid Quba

Membicarakan sejarah munculnya masjid dalam lintasan sejarah umat Islam tidak dapat dilepaskan dari awal munculnya masjid sebagai pusat dinamika umat Islam, baik di bidang ritual peribadatan maupun kehidupan sosial. Masjid yang mula-mula dibangun oleh Nabi saw adalah Masjid Quba. Quba, sesungguhnya adalah nama satu pemukiman yang terletak sekitar tiga mil di utara kota Madinah. Di daerah yang sebenarnya belum masuk dalam wilayah Madinah itu, Nabi saw mengawali pembangunan masjid sebagai pusat peribadatan dan sekaligus pusat kehidupan sosial umat Islam.

Jejak pembangunan masjid Quba tidak dapat dilepaskan dari persitiwa hijrah yang dilakukan Nabi saw dari kota Makkah menuju Yatsrib    (Madinah). Begitu menerima wahyu yang mengizinkannya untuk berhijrah, dengan didampingi Abu Bakar, Nabi saw segera melakukan perjalanan hijrahnya. Setelah melakukan perjalanan yang cukup menegangkan, akhirnya Nabi saw dan Abu Bakar dapat keluar dari kota Makkah. Selanjutnya, pada hari Senin tanggal 22 September tahun 622 M yang, menurut Ibnu Hisyam (Sirah Ibnu Hisyam, 2000, I: 446) bertepatan pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal dan menurut Syibli Nu’mani (Siratun Nabi,1970, I: 311) bertepatan pada tanggal 8 Rabi’ul Awwal, Nabi saw telah sampai di pinggiran kota Madinah, tepatnya di pemukiman Bani Amr bin Auf  yang terkenal dengan nama Quba. Di Quba, Nabi saw berhenti dan singgah beberapa hari di rumah salah satu tokohnya, yaitu Kultsum bin Hidam. Sementara, Abu Bakar tinggal di rumah Khabib bin Isaf dari Bani Al-Harts Khazraj (Sirah Ibnu Hisyam, 2000, I: 446-7). Tidak lama setelah Nabi sampai di Quba, Ali yang sebelumnya ditinggalkan di Makkah datang menyusul dan bergabung.
Di dalam Sirah Ibnu Hisyam (2000, I: 447) dijelaskan bahwa Nabi saw tinggal di Quba selama empat hari, yaitu sejak Senin sampai Kamis, kemudian hari Jum’at melanjutkan perjalanannya ke Madinah. Hanya saja, orang-orang Bani Amr bin Auf menyatakan bahwa Nabi saw  tinggal di Quba sekitar dua pekan. Selama tinggal di Quba, Nabi saw dibantu para sahabat dari Bani Amr bin Auf membangun masjid yang pertama. Masjid itu dibangun di tanah milik dari keluarga Kultsum bin Hidam.
Masjid yang kemudian diberi nama masjid Quba itu dibangun dalam keadaan yang relatif sederhana. Pada awalnya, masjid Quba hanya merupakan pelataran atau tanah lapang berbentuk persegi panjang, yang di pojok-pojoknya dipancangkan tiang-tiang. Masing-masing tiang dikaitkan, sehingga membentuk bangunan ruangan yang masih belum berdinding. Atapnya dibuat dari pelepah daun kurma yang dicampur tanah liat. Begitu juga, dengan lantainya dibuat dari pelepah daun kurma. Selanjutnya, di sisi  ruangan mulai dibangun dinding yang terbuat dari batu bata tanah liat (Omar Amin Hoesin, 1981: 197).
Pembangunan masjid Quba membutuhkan waktu selama empat hari. Setelah pembangunannya selesai, Nabi saw melaksanakan shalat di masjid tersebut bersama-sama para sahabatnya. Sebagian sejarawan menyebutkan bahwa shalat berjamaah yang dilakukan itu adalah shalat Jum’at. Oleh karena itu, shalat Jum’at di masjid Quba itu kemudian dipandang sebagai shalat jum’at pertama yang dilakukan Nabi saw (Syauqi Abu Khalil, Atlas Al-Qur’an, 2005, 222-3). Hanya saja, Ibnu Hisyam menyebutkan bahwa shalat Jum’at yang pertama bukan dilakukan di masjid Quba, tapi di masjid Bani Salim bin Auf, tepatnya di lembah Ranuna (Sirah Ibnu Hisyam, 2000, I: 447).

Setelah dirasa cukup tinggal di Quba dan pembangunan masjid telah usai, pada hari Jum’at tanggal 12 Rabi’ul Awwal atau 24 September tahun 622, setelah shalat Jum’at (ada yang menyebut pada pagi hari, sehingga ketika masuk waktu shalat Jum’at Nabi saw baru sampai di Lembah Ranuna’ dan shalat Jum’at di masjid yang ada di Lembah itu/Bani Salim), Nabi saw melanjutkan perjalanannya menuju Madinah. Tidak terlalu lama menempuh perjalanan dari Lembah Ranuna akhirnya Nabi saw, Abu Bakar, dan Ali dengan disertai sahabat-sahabat yang lain sampai di kota Madinah. Di gerbang kota Madinah, Nabi disambut dengan suka cita oleh penduduk setempat. Seperti halnya ketika memasuki pemukiman Quba, pada saat memasuki kota Madinah, Nabi saw segera memikirkan perlunya dibangun masjid sebagai basis kehidupan umat Islam. Untuk itu, segera dicari tempat yang representatif sebagai tempat dibangun masjid. Atas petunjuk onta yang dinaiki Nabi saw, akhirnya terpilihlah tanah milik dua anak yatim bersaudara, Sahal dan Suhail, sebagai lahan untuk pembangunan masjid pertama di kota Madinah. Di tanah itulah kemudian dibangun rumah Nabi saw dan sekaligus masjid Nabi yang kemudian dikenal dengan nama masjid Nabawi(Sirah Ibnu Hisyam, 2000, I: 448-9).

Masjid Quba adalah pilar peribadatan dan peradaban yang dipancangkan Nabi saw sebelum membangun peradaban Islam di Madinah. Berbeda dengan peradaban-peradaban manusia sebelumnya yang seringkali dibangun hanya berlandaskan ideologi materialistik, peradaban Islam yang diawali dari Masjid Quba dibangun dengan dilandasi spiritualitas ketakwaan. Oleh karena itu, masjid Quba sebagai pilar peradaban Islam disebut sebagai “Masjid Takwa” (Q.s. At-Taubah [9]: 107-8).
Kekokohan dan ketangguhan kekuatan umat Islam sangat menakutkan musuh-musuh Islam. Dengan soliditas dan ukhuwah Islamiyah yang sangat kuat menjadikan umat Islam hampir tidak terkalahkan dalam berbagai medan peperangan. Satu faktor penting sebagai pembangun soliditas umat Islam tersebut adalah masjid yang dilandasi pilar ketakwaan. Kondisi seperti itu sudah diketahui oleh para musuh Islam. Oleh karenanya, mereka sadar bahwa jika ingin melemahkan dan menghancurkan umat Islam, maka pilar dan sendi utamanya harus dirontokkan. Merontokkan dan menggempur pilar tersebut secara fisik dirasa kurang memungkinkan. Untuk itu, para musuh Islam mencoba cara yang cukup halus. Mereka mendirikan masjid tandingan untuk menyelingkuhkan umat Islam dari sendi dan pilar kehidupannya, yang pada saat itu adalah masjid Quba. Bahkan, mereka mencoba memecah soliditas umat Islam. Masjid yang mereka dirikan itu kemudian oleh Allah dinamai “Masjid Dirar” yang artinya masjid tandingan atau oposisi.
Masjid Dirar dibangun pada tahun 9 H, sebelum terjadinya perang Tabuk.  Masjid Dirar dibangun oleh 12 orang Munafik di bawah pimpinan Abu Amir Ar-Rahib di daerah pemukiman Bani Salim utara kota Madinah, sedaerah dengan masjid Quba. Jadi, pembangunan masjid Dirar memang sangat terlihat dimaksudkan untuk merontokkan keanggunan masjid Quba. Pada saat usai membangun, orang-orang munafik mengundang Nabi saw untuk berkenan shalat di masjid tersebut. Harapan mereka, masjid tersebut mendapat legitimasi dari Nabi saw. Akan tetapi, atas bimbingan wahyu dari Allah SwT,  Nabi saw menolak dengan tegas permintaan orang-orang kafir munafik itu. Bahkan, karena diberi informasi Allah jika masjid itu dibangun sebagai upaya untuk merontokkan soliditas umat Islam, maka Nabi saw memerintahkan kepada para sahabatnya untuk merobohkannya. Hancurlah upaya orang-orang kafir munafik untuk memporak-porandakan sendi-sendi soliditas umat Islam.

Masjid Kiblatain

Perlu diketahui bahwa pada awalnya, kiblat untuk menghadapkan wajah umat Islam tatkala shalat adalah ke arah Baitul Maqdis (Masjidil Aqsa) di Jerussalem. Hanya saja, Nabi saw merasa kurang mantap jika shalat harus menghadap ke arah Baitul Maqdis, khususnya setelah berada di Madinah. Pada bulan Rajab (sumber lain menyebut bulan Sya’ban), turunlah wahyu (Q.s. Al-Baqarah [2]: 144) yang memerintahkan Nabi saw mengubah arah kiblat shalatnya dari Baitul Maqdis menuju ke Baitullah Ka’bah.
Ada dua versi terkait dengan tempat peristiwa turunnya wahyu perubahan arah kiblat shalat. Pertama, versi ini menyebutkan bahwa perintah perubahan arah kiblat shalat itu turun tatkala Nabi saw sedang melaksanakan shalat Dzuhur di masjid Bani Salimah. Nabi saw menerima wahyu itu tatkala telah masuk pada rakaat ketiga.  Untuk itu, disebutkan bahwa pada dua rakaat pertama, Nabi saw shalat menghadap ke arah Baitul Maqdis, sedangkan pada dua rakaat yang terakhir menghadap ke arah Baitullah Kakbah di Masjidil Haram. Dengan begitu, masjid Bani Salimah ini dalam sejarahnya kemudian memiliki dua mihrab sehingga di sebut dengan nama Masjid Kiblatain (Harun Nasution dkk, 1992, 648-9).
Kedua, versi ini menyebutkan bahwa wahyu tentang perintah perpindahan arah kiblat shalat itu memang turun ketika Nabi saw sedang mengerjakan shalat Dzuhur di Masjid bani Salimah. Hanya saja, ketika waktu shubuh berikutnya tiba, ternyata masyarakat Quba belum tahu jika ada perpindahan arah kiblat. Untuk itu, mereka tetap shalat menghadap ke Baitul Maqdis. Ketika memasuki rakaat yang kedua, datang salah seorang sahabat yang ikut shalat dzuhur bersama Nabi saw ketika perintah perpindahan arah kiblat itu turun. Begitu tahu bahwa, masyarakat Quba masih shalat menghadap kearah Baitul Maqdis, sahabat itu berseru bahwa arah kiblat shalat telah dirubah menghadap ke Baitullah Kakbah. Untuk itu, jamaah pun mengganti arah kiblat menuju ke arah Baitullah Kakbah (Imam Muhammad Asy-Syaukani, terj. 1970, II: 323-4).
Dikarenakan adanya peristiwa itu, maka seperti masjid Bani Salimah, masjid Quba pun memiliki dua mihrab, sehingga terkadang juga disebut sebagai “Masjid Kiblatain”. Hanya saja, dalam perkembangannya, nama masjid Quba lebih femilier dan populer di kalangan umat Islam sehingga ia jarang disebut sebagai masjid Kiblatain. Hingga sekarang, nama masjid yang dikenal sebagai masjid Kiblatain adalah masjid Bani Salimah. Meski demikian, hal itu menandakan betapa urgennya masjid Quba sebagai pilar awal penentuan arah kiblat shalat bagi umat Islam.

Masjid Nabawi

(dari suaramedia.com)

“Shalat di masjidku ini [Masjid Nabawi] lebih utama 1.000 kali dibanding shalat di masjid lainnya kecuali di Masjidil Haram dan shalat di Masjidil Haram lebih utama 100.000 kali shalat daripada masjid lainnya.” [HR Ahmad Ibnu Huzaimah dan Hakim].

Masjid Nabawi adalah masjid kedua yang paling utama untuk dikunjungi umat Islam setelah Masjidil Haram di Mekah. Masjid Nabawi didirikan tahun 622 M atau tahun pertama hijriah, setelah Nabi Saw hijrah dari Mekah ke Madinah. Cerita unik di balik letak masjid ini adalah ketika itu Rasulullah Saw meminta untanya untuk berjalan dan menunjukkan tempat yang dapat dijadikan lokasi rumahnya. Hal ini dilakukan sebagai langkah bijaksana Nabi Saw terhadap banyaknya tawaran dari kaum Anshar untuk tinggal dan beristirahat di rumah mereka. Ternyata sang unta berhenti di depan rumah Abu Ayyub Al-Ansari yang menerima Nabi Saw dengan senang hati.

Setelah beberapa bulan tinggal di sana, Nabi Saw mendirikan masjid di atas tanah tersebut. Rasulullah Saw yang meletakkan batu pertama pendirian masjid, diikuti oleh sahabat-sahabat Nabi, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Kemudian pengerjaan masjid dilakukan dengan gotong royong sampai selesai. Pagarnya dari batu tanah, tiang-tiangnya dari batang kurma, sedangkan atapnya pelepah daun kurma. Waktu itu arah kiblatnya Baitul Maqdis di Yerusalem, karena perintah menghadap Ka’bah belum turun. Luas masjid sekira 30 x 35 m dan keadaannya masih sederhana.

Dalam perkembangannya, Masjid Nabawi mengalami beberapa kali perombakan. Perubahan pertama adalah membangun mihrab setelah memindahkan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram di Mekah tahun 2 H setelah Rasulullah Saw menerima perintah memindahkan arah kiblat. Setelah itu dilakukan beberapa kali pembesaran masjid untuk dapat menampung jamaah yang semakin bertambah besar. Luas masjid kini mencapai 165.000 m² serta dapat menampung sekitar satu juta jemaah pada satu kesempatan. Renovasi terakhir dilakukan oleh Raja Fahd yang menambahkan AC serta memperindah masjid dengan 27 kubah yang dapat digeser dan kubah berbentuk payung yang bisa dibuka tutup. Keindahan ini juga dilengkapi dengan hamparan marmer putih di pelataran masjid yang selalu dingin meski terik matahari terus menyengat.

Masjid Nabawi memiliki 10 menara yang 6 di antaranya setinggi 99 m, serta 24 kubah. Terdapat 5 mihrab dan beberapa tiang yang konon memiliki sejarah masing-masing. Selain itu masjid ini dilengkapi dengan tempat parkir bawah tanah yang mampu menampung sekitar 4.400 kendaraan. Tempat yang paling bersejarah di dalam masjid adalah makam Rasulullah Saw beserta Abu Bakar dan Umar bin Khaththab yang diletakkan persis di bawah kubah berwarna hijau.

Hal unik lain adalah adanya satu area di dalam masjid yang dinamakan Raudhah yang berarti taman. Tempat ini ditandai tiang-tiang putih dan letaknya adalah antara rumah Nabi Saw [sekarang makam Rasulullah Saw] sampai mimbar. Luas Raudhah dari arah Timur ke Barat sepanjang 22 m dan dari Utara ke Selatan sepanjang 15 m. Konon Raudha adalah tempat yang paling makbul untuk berdoa, seperti sabda Rasulullah Saw, “Antara rumahku dengan mimbarku adalah Raudhah di antara taman-taman surga” [diriwayatkan 5 ahli hadits].

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula di bangun untuk tempat beribadat manusia ialah Baitullah yang di Makkah yang di-berkahi” al- Imran, ayat 96.

Ka’bah adalah bangunan suci Muslimin yang terletak di kota Mekkah di dalam Masjidil Haram. ia merupakan bangunan yang dijadikan patokan arah kiblat atau arah sholat bagi umat Islam di seluruh dunia. Selain itu, merupakan bangunan yang wajib dikunjungi atau diziarahi pada saat musim haji dan umrah. Ka’bah berbentuk bangunan kubus yang berukuran 12 x 10 x 15 meter (Lihat foto berangka Ka’bah). Ka’bah disebut juga dengan nama Baitallah atau Baitul Atiq (rumah tua) yang dibangun dan dipugar pada masa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail setelah Nabi Ismail berada di Mekkah atas perintah Allah. Kalau kita membaca Al-Qur’an surah Ibrahim ayat 37 yang berbunyi “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”, kalau kita membaca ayat di atas, kita bisa mengetahui bawah Ka’bah telah ada sewaktu Nabi Ibrahim as menempatkan istrinya Hajar dan bayi Ismail di lokasi tersebut. Jadi Ka’bah telah ada sebelum Nabi Ibrahim menginjakan kakinya di Makkah.

Ka’bah dari Dalam

Pada masa Nabi saw berusia 30 tahun, pada saat itu beliau belum diangkat menjadi rasul, bangunan ini direnovasi kembali akibat bajir yang melanda kota Mekkah pada saat itu. Sempat terjadi perselisihan antar kepala suku atau kabilah ketika hendak meletakkan kembali Hajar Aswad namun berkat hikmah Rasulallah perselisihan itu berhasil diselesaikan tanpa kekerasan, tanpa pertumpahan darah dan tanpa ada pihak yang dirugikan.

Banjir di Ka’bah tahun 1941

Pada zaman Jahiliyyah sebelum diangkatnya Rasulallah saw menjadi Nabi sampai kepindahannya ke kota Madinah, ka’bah penuh dikelilingi dengan patung patung yang merupakan Tuhan bangsa Arab padahal Nabi Ibrahim as yang merupakan nenek moyang bangsa Arab mengajarkan tidak boleh mempersekutukan Allah, tidak boleh menyembah Tuhan selain Allah yang Tunggal, tidak ada yang menyerupaiNya dan tidak beranak dan diperanakkan. Setelah pembebasan kota Makkah, Ka’bah akhirnya dibersihkan dari patung patung tanpa kekerasan dan tanpa pertumpahan darah.

Selanjutnya bangunan ini diurus dan dipelihara oleh Bani Sya’ibah sebagai pemegang kunci ka’bah (lihat foto kunci ka’bah) dan administrasi serta pelayanan haji diatur oleh pemerintahan baik pemerintahan khalifah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Muawwiyah bin Abu Sufyan, Dinasti Ummayyah, Dinasti Abbasiyyah, Dinasti Usmaniyah Turki, sampai saat ini yakni pemerintah kerajaan Arab Saudi yang bertindak sebagai pelayan dua kota suci, Mekkah dan Madinah.

Konci Ka’bah berada di museum Istambul

Pada zaman Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail as pondasi bangunan Ka’bah terdiri atas dua pintu dan letak pintunya terletak diatas tanah, tidak seperti sekarang yang pintunya terletak agak tinggi. Namun ketika Renovasi Ka’bah akibat bencana banjir pada saat Rasulallah saw berusia 30 tahun dan sebelum diangkat menjadi rasul, karena merenovasi ka’bah sebagai bangunan suci harus menggunakan harta yang halal dan bersih, sehingga pada saat itu terjadi kekurangan biaya. Maka bangunan ka’bah dibuat hanya satu pintu serta ada bagian ka’bah yang tidak dimasukkan ke dalam bangunan ka’bah yang dinamakan Hijir Ismail (lihat foto) yang diberi tanda setengah lingkaran pada salah satu sisi ka’bah. Saat itu pintunya dibuat tinggi letaknya agar hanya pemuka suku Quraisy yang bisa memasukinya. Karena suku Quraisy merupakan suku atau kabilah yang sangat dimuliakan oleh bangsa Arab.

Rukun Yamani

Karena agama islam masih baru dan baru saja dikenal, maka Nabi saw mengurungkan niatnya untuk merenovasi kembali ka’bah sehinggas ditulis dalam sebuah hadits perkataan beliau: “Andaikata kaumku bukan baru saja meninggalkan kekafiran, akan Aku turunkan pintu ka’bah dan dibuat dua pintunya serta dimasukkan Hijir Ismail kedalam Ka’bah”, sebagaimana pondasi yang dibangun oleh Nabi Ibrahim”. Jadi kalau begitu Hijir Ismail termasuk bagian dari Ka’bah. Makanya dalam bertoaf kita diharuskan mengelilingi Ka’bah dan Hijir Ismail. Hijir Ismail adalah tempat dimana Nabi Ismail as lahir dan diletakan di pangkuan ibunya Hajar.

Ketika masa Abdurahman bin Zubair memerintah daerah Hijaz, bangunan Ka’bah dibuat sebagaimana perkataan Nabi saw atas pondasi Nabi Ibrahim. Namun karena terjadi peperangan dengan Abdul Malik bin Marwan, penguasa daerah Syam, terjadi kebakaran pada Ka’bah akibat tembakan pelontar (Manjaniq) yang dimiliki pasukan Syam. Sehingga Abdul Malik bin Marwan yang kemudian menjadi khalifah, melakukan renovasi kembali Ka’bah berdasarkan bangunan hasil renovasi Rasulallah saw pada usia 30 tahun bukan berdasarkan pondasi yang dibangun Nabi Ibrahim as. Dalam sejarahnya Ka’bah beberapa kali mengalami kerusakan sebagai akibat dari peperangan dan umur bangunan.

Ketika masa pemerintahan khalifah Harun Al Rasyid pada masa kekhalifahan Abbasiyyah, khalifah berencana untuk merenovasi kembali ka’bah sesuai dengan pondasi Nabi Ibrahim dan yang diinginkan Nabi saw. namun segera dicegah oleh salah seorang ulama terkemuka yakni Imam Malik karena dikhawatirkan nanti bangunan suci itu dijadikan masalah khilafiyah oleh penguasa sesudah beliau dan bisa mengakibatkan bongkar pasang Ka’bah. Maka sampai sekarang ini bangunan Ka’bah tetap sesuai dengan renovasi khalifah Abdul Malik bin Marwan sampai sekarang

Hajar Aswad

Hajar Aswad merupakan batu yang dalam agama Islam dipercaya berasal dari surga. Yang pertama kali meletakkan Hajar Aswad adalah Nabi Ibrahim as. Dahulu kala batu ini memiliki sinar yang terang dan dapat menerangi seluruh jazirah Arab. Namun semakin lama sinarnya semangkin meredup dan hingga akhirnya sekarang berwarna hitam. Batu ini memiliki aroma wangi yang unik dan ini merupakan wangi alami yang dimilikinya semenjak awal keberadaannya. Dan pada saat ini batu Hajar Aswad tersebut ditaruh di sisi luar Ka’bah sehingga mudah bagi seseorang untuk menciumnya. Adapun mencium Hajar Aswad merupakan sunah Nabi saw. Karena beliau selalu menciumnya setiap saat bertoaf. Dan sunah ini diikuti para sahabat beliau dan Muslimin.

Pada awal tahun gajah, Abrahan Alasyram penguasa Yaman yang berasal dari Habsyah atau Ethiopia, membangun gereja besar di Sana’a dan bertujuan untuk menghancurkan Ka’bah, memindahkan Hajar Asswad ke Sana’a agar mengikat bangsa Arab untuk melakukan Haji ke Sana’a. Abrahah kemudian mengeluarkan perintah ekspedisi penyerangan terhadap Mekkah, dipimpin olehnya dengan pasukan gajah untuk menghancurkan Ka’bah. Beberapa suku Arab menghadang pasukan Abrahah, tetapi pasukan gajah tidak dapat dikalahkan.

Begitu mereka berada di dekat Mekkah, Abrahah mengirim utusan yang mengatakan kepada penduduk kota Mekkah bahwa mereka tidak akan bertempur dengan mereka jika mereka tidak menghalangi penghancuran Ka’bah. Abdul Muthalib, kepala suku Quraisyi, mengatakan bahwa ia akan mempertahankan hak-hak miliknya, tetapi Allah akan mempertahankan rumah-Nya, Ka’bah, dan ia mundur ke luar kota dengan penduduk Mekkah lainnya. Hari berikutnya, ketika Abrahah bersiap untuk masuk ke dalam kota, terlihat burung-burung yang membawa batu-batu kecil dan melemparkannya ke pasukan Ethiopia; setiap orang yang terkena langsung terbunuh, mereka lari dengan panik dan Abrahah terbunuh dengan mengenaskan. Kejadian ini diabadikan Allah dalam surah Al-Fil

Makam Ibrahim

Makam Ibrahim bukan kuburan Nabi Ibrahim sebagaimana banyak orang berpendapat. Makam Ibrahim merupakan bangunan kecil terletak di sebelah timur Ka’bah. Di dalam bangunan tersebut terdapat batu yang diturunkan oleh Allah dari surga bersama-sama dengan Hajar Aswad. Di atas batu itu Nabi Ibrahim berdiri di saat beliau membangun Ka’bah bersama sama puteranya Nabi Ismail. Dari zaman dahulu batu itu sangat terpelihara, dan sekarang ini sudah ditutup dengan kaca berbentuk kubbah kecil. Bekas kedua tapak kaki Nabi Ibrahim yang panjangnya 27 cm, lebarnya 14 cm dan dalamnya 10 cm masih nampak dan jelas dilihat orang.

Multazam

Multazam terletak antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah berjarak kurang lebih 2 meter. Dinamakan Multazam karena dilazimkan bagi setiap muslim untuk berdoa di tempat itu. Setiap doa dibacakan di tempat itu sangat diijabah atau dikabulkan. Maka disunahkan berdoa sambil menempelkan tangan, dada dan pipi ke Multazam sesuai dengan hadist Nabi saw yang diriwayatkan sunan Ibnu Majah dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash.

Terakhir, saya sangat berharap semoga artikel “Ka’bah” ini bisa membawa mangfaat, menyejukan hati dan menambah semangat kita dalam mengenal dan mencintai rumah Allah.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: